Hilangnya Budaya Rasa Malu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) :

rasa1/ra·sa/ n 1 tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa); 2 apa yang dialami oleh badan: — pedih dan nyeri di perut merupakan gejala sakit lambung; 3 sifat rasa suatu benda: gula — nya manis; 4tanggapan hati terhadap sesuatu (indra): — sedih (bimbang, takut); 5 pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar: adil; tak mengapa hidung dikeluani, pb orang yang kurang pikir atas sesuatu yang terjadi pada dirinya sehingga mendapat susah juga;

malu/ma·lu/ a 1 merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya)ia – karena kedapatan sedang mencuri uang; aku — menemui tamu karena belum mandi; 2 segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya: murid yang merasa bersalah itu — menemui gurunya; tidak usah — untuk menanyakan masalah itu kepada ulama; 3 kurang senang (rendah, hina, dan sebagainya)

Baik sekarang Saya gabung definisi yang Saya garis bawahi, yang akan menjadi :

Pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar, DAN merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya)

Budaya rasa malu di Indonesia

Ketika melihat gaya hidup masyarakat, konten-konten di media televisi kita akan melihat kondisi masyarakat di sekeliling kita, bagaimana mereka saling bersosialisasi dan apa yang muncul di televisi saat ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2000an… tentunya berdasarkan generasi saya.

Konten televisi yang tidak mendidik banyak sekali kita jumpai di program-program televisi saat ini. Dan saking banyaknya, Saya sampai males untuk menyebutkannya. Stasiun televisi yang dulu bertajuk Televisi Pendidikan Indonesia kini berganti menjadi sebuah stasiun televisi waralaba, yang isinya mars lagu partai politik dibumbui benih-benih ghibah antar sesama. Ada beberapa stasiun televisi yang menyajikan berita nasional nyatanya satu sumber beda warna, tergantung siapa teman politiknya.

Hal tersebut Saya kira membuat para penonton setianya akan terombang-ambing cara berpikirnya. Apa lagi ada yang lagi galau memikirkan harga-harga kebutuhan yang semakin naik, sampai bete tak terbelinya cicin tunangan seorang anak muda untuk sang kekasih hati yang berakhir na’as mencari jalan eLGeBeTe. Ada lagi seorang tersangka korupsi yang terlihat menikmati saat diliput media masa bak seorang artis yang lagi naik daun.

Di masa sekarang dengan banyaknya konten-konten yang minim mencerminkan rasa malu, peran orang tua sangat dibutuhkan oleh anaknya. Konten mana yang seharusnya ditonton oleh anak, dewasa atau orang tua dan yang mana yang membutuhkan bimbingan dari orang tua.

 

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *